Sabilus Salikin (35): Enam Perkara untuk Mencapai Derajat Salihin

Menurut Ibrahim bin Adham, agar seorang salik dapat mencapai derajat orang-orang salih, maka ia harus melakukan enam hal.

Enam hal tersebut meliputi:

(1) Menutup pintu nikmat dan membuka pintu sengsara.

(2) Menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan.

(3) Menutup pintu kesantaian dan membuka pintu kelelahan.

(4) Menutup pintu tidur, dan membuka pintu terjaga.

(5) Menutup pintu kekayaan, dan membuka pintu kemiskinan.

(6) Menutup pintu angan-angan, dan membuka pintu persiapan untuk menghadapi kematian, (Tanwîr al-Qulûb, halaman: 468)

وَقَالَ إِبْرَاهِيْمُ بْنُ أَدْهَمَ : لاَيَنَالُ الرَّجُلُ دَرَجَةَ الصَّالِحِيْنَ حَتَّى يَجُوْزَ سِتَّ عَقَبَاتٍ: (اْلأُوْلَى) يَغْلِقُ بَابَ النِّعْمَةِ وَيَفْتَحُ بَابَ الشِّدَّةِ (الثَّانِيَةُ) يَغْلِقُ بَابَ الْعِزِّ وَيَفْتَحُ بَابَ الذُّلِّ (الثَّالِثَةُ) يَغْلِقُ بَابَ الرَّاحَةِ وَيَفْتَحُ بَابَ التَّعَبِ (الرَّابِعَةُ) يَغْلِقُ بَابَ النَّوْمِ وَيَفْتَحُ بَابَ السَّهَرِ (الْخَامِسَةُ) يَغْلِقُ بَابَ الْغِنَى وَيَفْتَحُ بَابَ الْفَقْرِ (السَّادِسَةُ) يَغْلِقُ بَابَ اْلأَمَلِ وَيَفْتَحُ بَابَ اْلاِسْتِعْدَادِ لِلْمَوْتِ، (تنوير القلوب، ص: 468).

Derajat kemuliaan apapun baik kemuliaan dunia maupun kemuliaan akhirat hanya bisa dibeli dengan keseriusan yang ajeg.

وَقِيْلَ إِنَّ الْاِسْتِقَامَةَ تُوْجِبُ دَوَامَ الْكَرَامَةِ، (جامع الأصول في الأولياء، ص: 180).

Dikatakan bahwa istiqâmah menjadikan langgengnya kaRamah, (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 180).

Berikut ini macam-macam istiqâmah;

وَاْلاِسْتِقَامَةُ وَهِيَ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: اِسْتِقَامَةُ الْعَامِّ وَهِيَ بِالْخِدْمَةِ، وَاسْتِقَامَةُ الْخَاصِّ وَهِيَ بِصِدْقِ الْهِمَّةِ، وَاسْتِقَامَةُ اْلأَخَصِّ وَهِيَ بِتَعْظِيْمِ الْجِهَّةِ أَيِ الْحُرْمَةِ، (جامع الأصول في الأولياء، ص: 77)

Istiqâmah ada tiga macam; istiqâmah-nya orang ‘awâm yaitu dengan pengabdian, istiqâmah-nya orang khâsh yaitu dengan niat yang kuat, dan istiqâmah-nya orang akhâsh yaitu dengan mengagungkan semua kebesaran Allah SWT, (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 77).

Wali

Istilah wali itu secara ilmu shorof (gramatikal Arab) ada dua bentuk;

kata wali mengikuti wazan faîlun dengan menggunakan makna isim fail yang berarti seseorang yang taatnya terus menerus tanpa disela-selai dengan kemaksiatan

kata wali mengikuti wazan fâlun dengan menggunakan makna isim maf’ul yang berarti seseorang yang yang selalu dijaga oleh Allah SWT dari segala macam bentuk kemaksiatan dan selalu mendapat pertolongan untuk melakukan ketaatan.

Dasar Kata wali diambil dari Alquran

Al-Baqarah: 257

اَللهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiRAn) kepada cahaya (iman).

al-A’raf: 196

إِنَّ وَلِيِّـيَ اللهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

Sesungguhnya pelindungku ialah Allah SWT yang telah menurunkan al-Kitab (Alquran) dan Dia melindungi orang-orang yang soleh.

al-Baqarah: 286

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan Rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

al-Maidah: 55

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk kepada Allah.

Kata wali menurut bahasa bermakna dekat, sehingga apabila seorang hamba dekat dengan Allah SWT sebab banyak melakukan ketaatan, maka Allah SWT dekat dengannya melalui rahmat-Nya dan dari situlah dia menjadi wali, (Jâmi’ al-Karâmât al-Auliyâ’, juz 1, halaman: 11).

Wali menurut istilah Sufi adalah orang yang selalu melanggengkan taat dan menjauhi kemaksiatan, menghindar dari segala macam bentuk kesenangan. Sedangkan kata wali menurut ahli Fiqh adalah seseorang yang mempunyai sifat ‘adalah al-Batinah sebagaimana syarat-syarat yang telah disebutkan oleh ulama’ ulama’ dalam kitab fiqh. Pembahasan tentang wali pada bab ini adalah wali menurut ahli sufi.

Dasar dasar wali yang disebutkan oleh Alquran dalam surah Yunus ayat 62-64

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ﴿٦٣﴾ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَياةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لاَ تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿٦٤﴾

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar, (al-Kawâkib al-Durriyah fi Tarjami al-Sâdat al-Shûfiyah, juz 1, halaman: 9).

“Maqam” para wali

Allah SWT menjadikan manusia di bumi sebagai khalifah. Dan di antaranya Allah memilih beberapa dari mereka sebagai pewaris rasul dan para nabi yang disebut dengan wali. Dan tentunya dari beberapa pilihan tersebut masih ada perbedaan lagi, seperti karakter kepemimpinan maupun kemampuan. Sehingga seorang wali ada beberapa macam tingkatan. Seperti dijelaskan dalam Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’:

اِعْلَمْ أَنَّ اْلأَوْلِيَاءَ لَهُمْ أَرْبَعُ مَقَامَاتٍ: الأَوَّلُ مَقَامُ خِلاَفَةِ النُّبُوَّةِ، وَالثَّانِى مَقَامُ خِلاَفَةِ الرِّسَالَةِ، وَالثَّالِثُ خِلاَفَةُ أُوْلِى اْلعَزْمِ، وَالرَّابِعُ خِلاَفَةُ أُوْلِى اْلإِصْطِفَاِء. فَمَقَامُ خِلاَفَةِ النُّبُوَّةِ لِلْعُلَمَاءِ، وَمَقَامُ خِلاَفَةِ الرِّسَالَةِ لِلأَبْدَالِ، وَمَقَامُ خِلاَفَةِ أُوْلِى الْعَزْمِ لِلْأَوْتَادِ، وَمَقَامُ خِلاَفَةِ أُوْلِى اْلإِصْطِفَاءِ لِلْأَقْطَابِ، (جامع الأصول فى الأولياء، ص: 6).

Ketahuilah bahwasanya para wali ada empat tingkatan: (pertama) maqam khilafah Annubuwwah, (kedua) maqam khilafah ar-Risalah, (ketiga) maqam khilafah Ulul ‘azmi, (keempat) maqam Ulil Isthifai. Bahwasanya maqam khilafah an-Nubuwwah untuk Ulama’, maqam khilafah ar-risalah untuk wali abdal, maqam khilafah ulul azmi untuk wali autad, dan maqam khalifah Ulil Isthifai untuk wali qutub”, (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 6).

Wali “Majdzub”

Seringkali kita mendengar istilah jadzab atau majdzub. Jadzab atau majdzub ini adalah sebuah istilah yang identik dengan para wali Allah SWT

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan wali jadzab atau majdzub itu?

وَالْمَجْذُوْبُ فِى قَبْضَتِهِ تَعَالَى بِمَنْزِلَةِ الصَّبِيِّ الرَّضِيْعِ، تَتَصَرَّفُ فِيْهِ يَدُ الْقُدْرَةِ كَتَصَرُّفِ الْوَالِدَةِ فِى وَلَدِهَا. (جامع الأصول فى الأولياء، ص 7)

Wali majdzub ada dalam genggaman (kekuasan) Allah SWT Layaknya bayi yang menyusu, tindakannya selalu dalam kekuasan Allah SWT, ibarat tindakan seorang ibu terhadap anaknya, (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 7).

Setan biasanya hadir dalam mimpi kita dengan wujud yang berbeda-beda. Adakalanya dengan wujud orang-orang yang kita kasihi, maupun orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal. Namun, apakah setan mampu untuk menyerupai wujud para wali kamil?

Sebagaimana setan tidak mampu menyerupai Nabi SAW, setan juga tidak mampu untuk menyerupai wali yang sempurna. Sebagaimana hal ini termaktub dalam kitab Tanwîr al-Qulûb, halaman: 520.

أَنَّ الشَّيْطَانَ كَمَا لاَ يَقْدِرُ أَنْ يَتَمَثَّلَ بِصُوْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَقْدِرُ أَنْ يَتَمَّثَلَ بِصُوْرَةِ الْوَلِي الْكَامِلِ أَيْضًا، (تنوير القلوب، ص: 520).

Hakikat wali Allah

Wali adalah orang yang diberi kekhususan oleh Allah untuk melaksankan perintahnya dengan menyaksikan beberapa pekerjaan Allah dan sifat-sifatNya. (Jawâhir al-Ma’ani wa Bulûgh al-Amani, halaman 286)

Akibat hilangnya wali satu saja:

قَالَ فِي”لَطَائِفِ الْمِنَنِ” : “سُئِلَ بَعْضُ الْعَارِفِيْنَ عَنْ أَوْلِيَاءِ الْعَدَدِ : أيَنْقُصُوْنَ فِي زَمَنٍ ؟ فَقَالَ: لَوْ نَقَصَ مِنْهُمْ وَاحِدُ مَا أَرْسَلَتِ السَّمَاءُ قَطْرَهَا، وَلَا أَبْرَزَتِ الْأَرْضُ نَبَاتَهَا

Termaktub dalam kitab “Lathâiful Minan” tentang auliya’ al’ adad “ bila satu wali saja berkurang (wafat), maka langit tidak akan menurunkan air hujannya dan bumi tidak akan menumbuhkan tumbuhan-tumbuhannya“

Tiga tanda wali

عَلَامَةُ الْأَوْلِيَاءِ ثَلَاثَةٌ : “تَوَاضُعٌ عَنْ رَفْعَةٍ، وَزُهْدٌ عَنْ قُدْرَةٍ، وَإِنْصَافٌ عَنْ قُوَّةٍ”

(1) Bertawadlu’ dalam kemuliaan

(2) Berzuhud dalam kelapangan rezki

(3) Melayani, membantu dengan kseungguhan

Menghina/meremehkan para wali:

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ حَامِدِ :”اْلِاسْتِهَانَةُ بِاالْأَوْلِيَاءِ مِنْ قِلَّةِ الْمَعْرِفَةِ بِاللهِ تَعَالَى”

Orang yang suka menghina atau menganggap remeh para wali adalah sebagai tanda orang tersebut tidak ma’rifat atau sedikit sekali makrifatnya kepada Allah SWT

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!